![]() |
| With bu Oliva, the first time to Curtin University |
![]() |
| With bu Yuyun's family before landing to New Zealand |
Sahabat,
Kebahagiaan berita pengumuman penerima beasiswa DIKTI tahun 2009 seolah puncak dari keinginan yang lama terpendam. Bukannya tidak pernah terbayang, akan bisa menginjakkan kaki di Perth, Australia, sering malah memimpikannya. Namun ketika telepon dari sahabatku, bu Yuyun, malam itu, sekitar pertengahan bulan Maret 2009 (jika tidak keliru...he..he..) yang memberi berita kejutan, benar-benar menjadi surprise untukku. Kira-kira beginilah percakapan kami melalui telepon.
Yyn: Assalamu'alaikum, bu sudah pirso pengumuman beasiswa Dikti?sudah keluar lho nama-namanya...
Me: Wa'alaikum salam bu...Ah, yang bener? Siapa saja bu yang masuk? (Sambil kebat kebit hati ini membaca doa karena sudah membayangkan bakalan tidak masuk daftar penerima. Skor IELTS jadi penentu utama he..he.. ).
Yyn: Siapa ya?? (sengaja bikin penasaran). Ada pak Andre, bu Mila, bu Yuyun, sama sapa ya?? bu Arief...alhamdulillah katut.
Me: Alhamdulillah...terima kasih bu........
Perjuangan mendapatkan beasiswa tidak tanpa cerita heroik. Cerita perjuangan dimulai pada pertengahan tahun 2006 sudah diajak teman-teman, terutama motivator bu Yuyun (thanks you very much, sista) untuk hunting informasi sekolah keluar negeri secara gratis alias nyari beasiswa. Pameran pendidikan sering disambangi, persiapan administrasi mulai dipikirkan, skor bahasa Inggris mulai dipikirkan juga untuk ditingkatkan. Alhamdulillah, dukungan teman-teman dan universitas menggelorakan semangat yang kadang surut, kadang maju bahkan kadang enggan beranjak dari tempatnya.
Awal tahun 2007, berkenalan dengan Alfalink, lembaga konsultasi pendidikan luar negeri di Semarang, tepatnya berkantor di jalan Kartini. Terima kasih, atas pelayanan dan bantuan konsultasinya pak Imam, mb Grace, dan mba2 yang lain. Tak pernah mereka menyurutkan semangatku, sebaliknya memompa motivasiku. Walaupun beberapa menerima penolakan "letter of offer" dari universitas luar negeri karena masalah skor IELTS, tetapi mereka tetap senyum..."mungkin nanti ada jalan lain buk"..(dengan logat surabayan yang medhok).
Meskipun ditolak dibeberapa universitas, aku juga diterima di beberapa universitas. Mereka bersedia menerima diriku apa adanya alias dengan modal bahasa Inggris yang ngepas banget, tetapi harus ikut kursus bahasa Inggris di universitas sono. Uang dari mana???
Aku tetep ndak bisa berangkat dong karena aku khan maunya sekolah gratis dengan mengandalkan modal kepala, dengkul dan keringat (karena dana sendiri mesti kurang...banyak sekali..he..he). Lagian mana mau si pemberi beasiswa, bayarin untuk kursus bahasa dulu. Ya, sudah ngalamat jual mahal menolak tawaran dari universitas (gantian jual mahal...he..he..). Tetapi dengan berkali-kali minta tolong pak Imam dan mba-mba di Alfalink.."pak, bisa minta tolong disampaikan kepada universitasnya, saya akan berangkat kalo sudah dapat beasiswanya. So, minta tolong "letter of acceptance"nya minta expand satu semester yah...". Dengan senyum (tak tau aku arti senyummu ini..) pihak Alfalink berkata "Endak apa-apa kok bu, jangan sungkan-sungkan lho buk..." Bolak-balik ini terjadi, antara sungkan, malu, putus asa, semangat, enggak PD, pasrah, bangkit semua campur aduk selama hampir 1.5 tahun lebih.
Tapi disela-sela itu, usaha untuk meningkatkan skor terus dilakukan. Tiada kenal mundur, mulai kursus di Study World, privat CLT, Pare (ah..ada cerita sendiri dech nanti, bersama bu Yuyun end family plus mbok Yah....I miss u all), sampek privat pak Ilyas (bersama bu Ratna) huahahaha... Beberapa kali ikut test IELTS di IDP (malu juga ketemuan sama mba Endah dan mas itu teyus..hehehe..). Hasilnya kayak timbangan, kok? Tes kali ini, skor ini naik, skor itu turun. Lain kali gantian yang ini turun, yang itu naik. Walah...ya dinikmati saja dech sambil tak lupa terus berdoa memohon yang terbaik yang diberikan Allah swt.
Perjuangan ini juga tidak sendiri, ada banyak tangan-tangan tulus di belakang, di samping, di depan, atas dan bawah mendukung aku, semuanya memberikan dukungan. Suamiku yang tak pernah lelah dan mengeluh mengantakan kursus ke sana ke mari dan hunting ini itu...(sampai sekarang ini setia menemaniku di Perth dengan bekerja apa adanya, tapi syukur alhamdulillah Allah mengantarkan dan kami yang menjemput rejeki disini). Love you honey ^_^...
Teringat setiap hari kalau kursus bahasa Inggris jam 4 sore, ijin pulang kantor lebih cepat, cuma ganti baju trus tancep. Alhamdulillah, enggak pernah capek dan sakit (kok sekarang baru ingat ya? nikmat kesehatan yang Allah..dasar manusia pelupa...:-)) aku harus segera pergi lagi dengan menaikki motor sendiri. Beberapa kali juga alm.tetanggaku pak Bekti yang terkadang menginap di rumah karena rumahnya terendam air (banjir), bertanya: "mau kemana bu?" kalau aku titipi kunci rumah kalau-kalau mereka mau masuk rumahku untuk istirahat setelah bersih-bersih rumah mereka. Pada saat itu sering tergesa-gesa, lupa makan...ah sudah berlalu masa-masa itu.
Doa orang tua, mertua, saudara-saudara. Pertanyaan-pertanyaan yang manis juga sering mampir di telinga...."bagaimana hasil testnya? bagaimana rencana studinya? jadi tidak? kapan berangkat?" Semua adalah doa. Sering dalam perjalanan naik motor berdua dengan suami, aku bertanya pada suamiku: "mas sekarang ini bu Vivi sedang apa ya di Perth? mungkin enggak ya kita bisa ke Perth?" (bu Vivi adalah sahabat di universitas di Semarang yang menerima aku di Perth pertama kali). "Muga-muga Gusti Allah mengijabah doa kita ya...amin"
Yang tak boleh dilupakan adalah bantuan dana. Universitas tempat aku bekerja, dengan pak rektor dan jajarannya, sangat mendukung semangatku dan teman-teman scholarship hunter. Lingkungan kerja di fakultas juga tidak membebani. Semua bergerak menuju satu titik....beasiswa.
Masya Allah, ketika aku menulis ini seperti aku tersadarkan bahwa manusia hanya akan bisa mengambil hikmah suatu kejadian jika dia mentafakuri, mengingat, merenung dan berfikir akan suatu kejadian. Ya..semua aktifitasku pada saat itu, tertuju, terfokus pada satu tujuan...aku berusaha dan mencoba bertahan pada satu situasi, pasrah berharap. Aku nggoyo pada usaha tetapi tidak ngoyo pada hasil. Semua bergerak ke satu titik, kalau bisa dianalogkan sama seperti gerakan thawaf, always moves, dynamic, focus, persistence, positive (thinking) and pray...(ingat mantra 3P-nya M.Assad, positive...persistence...pray...berpikir positive...tekun-ulet-kerja keras-pantang mundur-konsisten....berdoa.
Belajar mengambil hikmah dari buku Negeri5menara dan Ranah3warna (hanya baca resensi kompasianer HS):
http://media.kompasiana.com/buku/2011/02/15/negeri-5-menara-dan-ranah-3-warna/
Man Jadda Wajadda....
Man Shabara Zhafira...
Berikut saya kutipkan sebagian kalimat penutup:
“ … Mantra Man Jadda Wajadda saja ternyata tidak cukup. Antara sungguh-sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan. Tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu sentimeter, tapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi juga bisa puluhan tahun.
Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi dengan sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin., bahkan seakan-akan itu adalah sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, doa, dan sabar yang berlebih-lebih.
Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis-habisan walaupun hidup sudah digelung dengan nestapa akut. Hanya dengan sungguh-sungguhlah jalan sukses terbuka. Tapi dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik dan paling kita butuhkan. Itulah hadiah Tuhan buat hati yang kukuh dan sabar.Sabar itu awalnya terasa pahit, tetapi akhirnya lebih manis daripada madu. Dan Alhamdulillah, aku sudah mereguk madu itu. Man shabara zhafira, siapa yang sabar akan beruntung.” (A. Fuadi:2011. P 468-469)
Sahabat, mungkin ini adalah hikmah dari pelajaran story behind Dikti Scholarship...the Secret part-1.
Berawal dari mimpi (nawaitu), usaha sungguh-sungguh (ikhtiar), pasrahkan (ridho)..
Teringat nasehat ustad Arief: "khasil ki dudu wilayahmu, bagian-mu mung sak dermo nglakoni sing temen, wes kuwi thok, khasil kuwi wes ono sing ngatur....".
Aku cuma bergumam dalam hati, "inggih honey..."
Aku lolos pada ujian itu...
Saat ini, aku sedang mengalami episode ujian yang berbeda, dengan tantangan yang berbeda. Semoga pelajaran ini aku ingat terus untuk bisa lolos menapaki tiap episode berikutnya....
PhD: sweet and bitter (halah...)
Salam,
Nh


No comments:
Post a Comment