Thursday, November 17, 2011

Kangen Tak Terperi (1)...

Pelajaran hidup apa lagi yang akan aku hadapi...
Entahlah, kadang aku merasa bodoh tidak mau tahu apa yang sebenarnya ada dihadapanku...tetapi penyesalan datang kemudian. Klise..memang. Semoga bukan penyesalan, melainkan sebuah ungkapan syukur atas hadiah kesempatan yang Allah berikan untuk aku untuk mendampingi ayahku disaat saat terakhirnya. Disaat usia ku...yang mungkin saja tinggal setengah (aku berdoa lebih) dari hidupku.

Kisah ini, aku mulai dari akhir tahun 2010, bulan Desember dimana aku dan si Mas merencanakan pulang kampung ke Semarang setelah hampir 1.5tahun menahan rindu silaturahmi, elusan tangan dan "jenggungan tangan" ke kepalaku yang kadang mampir (atau sengaja aku hampirkan), dan dekapan hangat bapak dan ibu serta saudara-saudaraku. Rencana matang kami susun berdua, 14 Desember kami akan meninggalkan Perth barang 3 minggu untuk melepas kangen dan yang utama bagiku adalah menjalankan proses pencarian data awal melalui diskusi fokus group untuk risetku. Sudah terbayang, aku akan pontang-panting melakukannya semuanya dalam waktu singkat, terlebih akhir tahun....liburan sudah menanti...terpampang sedikit pesimis bisa melaksanakannya sesuai jadwal.

Agak beda memang, jika si Mas sudah mengagendakan kepulangan kali ini untuk bertemu dengan saudara-saudara, orang tua, handaitaulan serta para tetangga, dan yang pasti sudah ditunggu-tunggu acara kuliner. Kasihan selama disini menu utamanya sebatas "oseng-oseng" hehehe.....Dengan demikian, aku harus fokus pada tujuan utama, sementara untuk urusan yang lain aku kesampingkan. Termasuk tidak begitu banyak bergelanjut manja, bercerita panjang lebar tentang apa saja yang bisa aku ceritakan selama disini pada ayah dan ibuku. Memang seharusnya tidak banyak yang bisa kuceritakan, karena hampir tiap bulan kami sempatkan mengabarkan apa saja tentang keadaan kami kepada kedua orang tua dan mertua terutama. Biasa...agenda utama adalah minta doa dan ridho orang tua, bukankah itu yang lebih utama??

Desember 2010 berganti Januari 2011, alhamdulillah diskusi fokus group sudah selesai, acara selanjutnya ternyata persiapan pulang ke Perth juga menyita waktu. Beberapa kali, aku dan suami beruntung sudah sempatkan diri berinteraksi lebih intens dengan ayah terutama. Namun, mengapa aku tidak fokus pada ayahku pada kepulanganku ini?? Memang, ayahku pernah terkena serangan stroke sampai empat kali, namun alhamdulillah tidak menjadikannya menjadi patah semangat untuk melanjutkan kehidupan ini. Semangat hidup beliau luar biasa...belum sanggup kami anak-anaknya menirunya.

Tibalah saat, kami harus kembali ke Perth, ayah ikut mengantarkan kami ke bandara. Memang, ayahku luar biasa..demi menyambut kepulanganku saja, beliau sampai "ngeyel" menjemput kami di Jakarta ditengah kondisinya yang serba terbatas. Padahal, sudah kami wanti-wanti kami hanya semalam transit di Jakarta dan akan langsung ke Semarang esok harinya...jadi mending bertemu saja di Semarang. Tapi, itulah ayahku...tidak ada yang bisa mengalahkan keinginannya...akhirnya jadilah kami menginap dirumah kakakku di Tangerang malam itu. Walau sebenarnya tidak bisa dikatakan menginap, karena kami tidak pernah tidur malam itu. Pesawat Garuda tiba jam 21.05 WIB, lalu perjalanan menuju Tangerang hampir 1 jam...sampai rumah ngobrol-ngobrol sampai jam 3 malam...karena khawatir tidak bisa bangun sekalian tidak tidur untuk menyiapkan keberangkatan ke bandara Soetta lagi karena kami harus cek in jam 6 pagi untuk penerbangan pertama ke Semarang. Aku bayangkan ayahku...antara senang bertemu aku..anaknya dan capek jalannya. Alhamdulillah, kami semua tiba di Semarang dengan selamat...home sweet home.

Pada keberangkatanku ke Perth, aku tidak merasakan sesuatu yang luar biasa...Aku percaya semua akan baik-baik saja. Setiap malam kusisipkan doa, ku titipkan orang-orang terkasihku dalam penjagaanNya, karena aku tidak berada disisi mereka. Maafkan aku ayah....

Kembali ke Perth, memulai aktifitas rutin...seperti biasa. Februari, kukabarkan kabar gembira kepada ayahku...beliau senang. April jadwalku mengambil data ke Indonesia, tertunda karena ada beberapa hal yang harus kuselesaikan, walaupun tiket sudah ditangan terpaksa harus reschedule. Mei, aku sangat ingat tanggal 8 hari Minggu, kembali aku pulang ke Indonesia. Ayah sudah memberi kabar menjemputku kembali walau hanya di Bandara Ahmad Yani. Tanggal 9 Mei (pas hari ulang tahun ayah), tapi, kucari sosoknya dikerumunan penjemput penumpang, namun tidak kutemukan...hanya ibu dan adikku. Ternyata, kabar dari ibuku, ayah lebih merasa perlu menunggu tukang dirumah daripada ke Bandara..."it's Ok dad...enjoying your hobby". Hehehe..begitulah salah satu kegiatan ayah yang luar biasa, selalu mencari kesibukan disela-sela sakitnya.

Menjelang Bulik Lastri Umroh, Sayung tahun 2008
"Bapak, lha katanya mau ikut jemput, kok ndak jadi?" begitu kataku ketika melihat beliau keluar kamar mandi sekitar jam 9 pagi. " He..he..he...candanya, aku kira enggak jadi pulang". (Aku tak kuasa meneruskan tulisan ini...air mataku jatuh deras seolah tak tertahan....).

Al-fatikhah....
Semoga Allah menjagamu, ayah...
Titip sampaikan salam rinduku untuknya ya Allah..
Kulihat ayah tenang dalam tidurnya, tersenyum dalam heningnya...
Semoga khusnul khotimah....Amin Ya Rabbal A'alaminnn.....


Leonard St, 18 Nov 2011

Thursday, March 3, 2011

Kerapkali lebih baik menahan daripadamenuruti-part 2

Apa kabar sahabat,

Menyambung cerita di Rabu pagi, 9 Februari 2011. Melihat si Mas masuk gedung untuk menemuiku rasanya sangat janggal. Kulihat wajahnya berusaha untuk tenang, walaupun suaranya ditahan untuk tidak menimbulkan kecurigaan isterinya. " Ada apa mas?" tanyaku sekali lagi. "Lebih baik kita bicara diluar", katanya. Aku menuruti langkahnya keluar gedung. Si Mas mengajak ke arah depan gedung untuk berkantor mahasiswa master dan doktoral Curtin Business School. Aku diajaknya menghampiri seorang wanita bule setengah baya, kelihatannya orang Aussie, yahhh...mobil yang tadi ada di depan kami, yang kelihatan kebingungan. "Wuk, tolong jelaskan aku tidak punya asuransi, soalnya tadi mobilku habis nyerempet mobilnya", kata si Mas. Deggg....ya Allah, inilah kira-kira jawaban mengapa sepagian rasane aras-arasen mau pergi ke kampus, ada saja peristiwa di pagi hari ini.

Mas Arief kemudian menjelaskan kronologi bagaimana mobil kami bisa menyerempetnya. Sebenarnya suamiku bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris (ngalem suami sendiri, sebagian dari ibadah he..he..he..). Walaupun untuk beberapa kosakata dia memerlukan bantuan gerakan tangan, tendangan kaki serta goyangan badan...hua..ha..ha.. begitulah sering aku menggodanya. Begitulah bahasa non-verbal sangat membantu keterbatasan bahasa verbal. Tapi aku cukup salut dan bangga pada si Mas, dengan keterbatasan bahasa  sesungguhnya dia memiliki banyak kelebihan dalam memahami sebuah komunikasi, listeningnya lumayan tajam sehingga dengan ilmu tebak-tebak berhadiah he..he..he...sering dia berkomunikasi dengan para orang asing, para tetangga kami.

Bukan tanpa modal belajar bahasa, si mas mendampingiku aku sampai ke Perth. Kursus bahasa dan belajar sendiri adalah kuncinya, berbagai macam buku dibeli, tapi ada daya kalau sudah umur ya pasti kalah sama anak-anak sekelas Balqis dan Ina, anak bu Vivi, ataupun Brian, anak mbak Titien. Otak anak-anak lebih cepat berkembang menerima impuls dan rangsangan, berupa knowledge baru dibandingkan orang tua. Tetapi pepatah "learning by doing" nampaknya menunjukkan hasil. Terbukti kemajuan si Mas dalam berbahasa menurutku sudah cukup maju.

Kemudian, si Mas meminta aku untuk menjelaskan bagaimana mobil kami "terpaksa" harus bersenggolan dengan mobil ibu tersebut. Jadi setelah menurunkan aku di depan gedung, wanita tadi berhasil menyalib lagi. Tentunya ada jeda waktu, sewaktu aku turun mobil dan say goodbye, mas berhenti, dan wanita itu menyalib di depan lagi...masih dengan clingak-clinguk lagi. Pas di depan jalanan yang menanjak si Mas, punya ide untuk take over lagi, karena mobil terlalu pelan jalannya.  Membuat si Mas tidak sabar untuk menyalib.


si Merah yang sedikit tergores....
Ternyata, pas menyalib, didepan tiba-tiba (tidak nampak karena jalanan menanjak) ada mobil dari arah yang berlawanan yang melaju dengan kencang. Alhasil, si Mas berada in between two car dan terpaksa harus menambah kecepatan untuk menyalib si ibu bule itu. Alhamdulillah, si Mas berhasil melewati mobil si ibu, tetapi naas, ketika menyalib (because the road only two form) bember belakang mobil kami bersinggungan dengan bember depan si ibu. 

Karena merasa ada gesekan, si Mas berinisiatif turun dan melihat kerusakan mobil si ibu. Sambil ngomong kesana-kemari, karena takut keliru mengartikan maka si Mas mengajak si ibu bule ini kembali ke gedungku. Jarak kejadian senggolan dengan gedungku hanya 25 meteran, so you can imagine, so closed. Mungkin mas tidak sabaran dan ingin menuruti kata hatinya untuk menyalib mobil lelet itu.

Sekedar senggolan, apa yang membuat aku deg-degan? Sahabat student, yang pernah tinggal di Aussie pastinya tahu ada dua jenis makhluk yang sebisa mungkin dihindari: polisi dan imigrasi. Berhubungan dengan kedua instansi ini dikhawatirkan berdampak "ada apa-apa" dengan visa ijin tinggal kita di Aussie dan ujung-ujungnya dengan studi kita. Terlebih juga dalam kasus ini kemungkinan harus kena biaya ganti yang cukup tinggi (karena mobil kami belum berasuransi).

Sebisa mungkin aku juga tenang, dalam menjelaskan alasan suamiku menyalib dan ketiadaan asuransi. Memang, ini adalah kesalahan besar, mengendari mobil tanpa asuransi, begitu seorang teman berkata ketika kami bercerita. "Aku ora wani, mas numpak mobil nang kene ora duwe asuransi, resiko". Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Sebenarnya, si Mas sudah berniat ikut asuransi dalam minggu-minggu sebelum terjadi kejadian ini, tapi belum mendaftar sudah terjadi. Ya, pasrah saja sama Allah, Dia Maha Tahu yang terbaik bagi kita. So, rice already has become a plate of porridge. Now, how I could make it become special porridge? Kemana aku harus mencari capcay, bakwan, emping dll untuk menjadikan bubur special?
"Sorry, I have a meeting at building Brodie Hall number 2 and I am looking for this address". Woalah ...alamat itu sudah mbok lewati mbok dhe…” begitu batinku. “How could you drive without an insurance? I am from Albany, Denmark, I am strange here. But, unlucky this is my mother in-law's car, I just borrowed to attend the meeting this morning at 10. Begitu dia nyerocos. “But, mam you are also make contribution in this accident. Why you are drive so slowly? Begitu pula aku membela suamiku. “But, your husband's car is in between, if he didn't take over me, maybe he will have crash with opposite car” begitu pula jawabnya.

"By the way, I have meeting soon, so I leave my husband's number and I ask your number, he will ring you to solve the problem. Yes, you are right, it is a little damage, but I am not sure. I am afraid it broken because it made from plastic and if it broken it should be replace all..” katanya sambil nunjuk-nunjuk bember yang cuma tergores catnya. Sepertinya kalau di Indonesia bisa cuma di kompon thok. Byuh..byuh..terbayang berapa mahalnya nanti kalau bember yang cuma tergores catnya harus diganti dengan bember sak glondongan...Bisa-bisa bembernya saja bisa buat beli mobilku...Ya, Allah nyuwunpun paringi sabar……

Betul juga siang itu aku ditelepon suaminya sekitar jam 11am. Pesan suamiku aku harus bisa negosiasi. Kalau bisa kami akan nego seluruh biaya perbaikan kami yang tanggung, kami pilihkan bengkel teregister yang relatif kami kenal dan pasti harganya terjangkau.  Solusi ini aku tawarkan, tapi suami bule ini tidak mau. Aku ganti biaya mengecat, dia enggak mau.

Aku ajak sedikit berniat “curang”, dia juga enggak mau. Beginilah manusia kebaikan dan kecurangan dinilai bertingkat secara 5-skala point he..he..he.. Bertingkat dari Sedikit sekali curang sampai Sangat Curang. Begitu juga kebaikan manusia seringkali melabeli dengan semaunya, dari sangat baik atau kebaikkannya sangat banyak hingga sedikit baik. Manusia sering lupa (salah satu sifat manusia yang sudah dipatenkan oleh Allah swt), Allah tidak sekalipun memfokuskan penilaian-Nya kepada manusia, hanya pada masalah kuantitas, tetapi juga masalah kualitas (ada dan tidak adanya niat).

Sebaik-baik manusia di sisi Allah manusia yang bertaqwa...

Kualitas niat lebih mempengaruhi penilaian Allah daripada sedikit-banyak, ataupun kecil-besar. Sepuluh ribu atau satu juta rupiah sedekah seseorang mungkin saja bisa bernilai sama dihadapan Allah, sepuluh ribu diberikan oleh seseorang tukang jual pecel sementara satu juta diberikan oleh pengusaha mebel. Dependent variable seperti intention (niat tulus), effort (usaha keras), variable demographic such as income (gaji/penghasilan), amount of dependent (jumlah tanggungan baik anak sendiri, anak yatim, dll). Semuanya bisa mempengaruhinya, namun sekali lagi penilaian kualitas lebih menentukan.

Duh, maafkan hamba ya Allah, mengapa aku kehilangan akal sehatku. Teringat aku akan sebuah tausiah seorang ustadz “ mau curang atau tidak curang, kalau sudah rejekinya pasti Allah akan memberikannya. Jika seluruh kekuatan jin dan manusia di dunia ini berhimpun, namun jika Allah tidak menghendaki rejeki itu untuk si Fulan, maka hal itu tidak terjadi. Demikian sebaliknya jika Allah menghendaki tiada satupun kekuatan yang mampu menghalangi rejeki itu untuk si Fulan…..Kun fayyakun…dan Allah memberikan rejeki kepada siapa saja yang dikehendakinya dari pintu yang tidak disangka-sangka”

Curang tanda petik, adalah langkah kedua sebelum yang terakhir. Toh, si Mas dalam hitungan kurang dalam satu jam setelah kejadian sudah mendapatkan asuransi??? "Jaraknya khan cuma satu jam thok, misalnya disebut curang paling hanya sedikit, lagian siapa tau si bule bersedia diajak berkomplot"dst...dst.., begitu pembenaran akal didukung oleh kipasan syetan berbisik-bisik merdu dihati. Suamiku sudah teregister asuransi sekarang. Begitu pulang dari gedung kantorku saat itu dia minta antar pak Teguh (teman si Mas) untuk mendaftar asuransi. "So, bagaimana kalo kita laporkan kejadian kecelakaan  setelah suami mendapatkan asuransi"? "Toh jaraknya cuma sebentar"? Aku kehilangan akal bagaimana membujuk si bule agar tidak melapor ke polisi. Nervous juga dengar kata “police” nich....hiks..hiks..hiks...

Katanya dia harus ke polisi membuat laporan dan ke agen asuransi melaporkan kecelakaan tersebut. Ini adalah senjata kedua sebelum yang terakhir. Sebenarnya, sungguh walau hanya "sedikit" kadar kecurangan, aku sangat MALU. Aku sangat malu pada Allah tentu saja, dan si bule. Alhamdulillah, aku sebenarnya masih punya iman, karena masih punya malu…(ngeles.com he..he..he…).
Dag..dig..dug…aku akhirnya mengatakannya juga, walaupun hampir 99.99% aku yakin si bule pasti nolak tawaranku.  Nah loh bener khan.....tengsin dah…"but the accident has already happened before you got insurance.....I don't wanna lie". Aduh malunya, aku katakan hanya satu: "I am sorry to tell about that"... terus mak klakep cep meneng ora komplain blas......Pas menulis kejadian ini, aku teringat juga bagaimana manusia-manusia yang lupa (seperti aku saat itu) sudah melupakan rasa malu untuk menebus kesalahannya secara membabi buta. Bukankah sesungguhnya malu merupakan pakaian dan bagian dari iman kita kepada Allah...

Astagfirullah, ampunilah hamba ya Allah..
Yang terbayang hanyalah kesulitan saja di depan mata. 
Pada saat itu hati tidak bisa berfikir hikmah dan kebaikan apa yang Allah hendak berikan kepada kami.

Senjata pamungkasku, sesuai anjuran si Mas adalah, "Coba kamu lobi, biar mobilnya kita beli saja, khan mending dapat mobil daripada bayar mahal untuk ganti mobil". Ini hanya perkiraan si Mas saja, jikalau harga ganti bember nanti sebesar harga mobil. Sahabat, harga mobil di Perth bervariasi ada yang murah ada yang mahal. Perkiraan si Mas, mobil si bule itu kira-kira 4000-5000AUD. “Jikalau nanti terpaksa membayar ganti bember 2500 or above, it’s better we buy that car”, kata si Mas. Aku protes, “Enak ae ngongkon uwong adol mobil, wong dia enggak niat adol kok. Malah bikin masalah baru dong mas”….”Lha dicoba dulu khan enggak apa-apa”, begitu ngototnya dia. Tapi, senjata pamungkas ini tidak aku keluarkan sama si bule.

Aku putus harapan pada si bule, "Ok let me know if you wanna go to police, but could you call me first please?”.  “Don't worries, let me see the car first, because I still at the office now and don't know car yet. May be after I go to agent, you should pay nothing. Tomorrow I will call you again”. Tapi bener-bener aku wanti-wanti sama si bule ini, tolong jangan laporin polisi, please.

Mengapa kami terlihat ngotot dalam hal ini, karena bagi kami  pokok permasalahan utama adalah police. Terbayang hal-hal buruk yang belum pasti terjadi....study, SIM, pekerjaan suami, urusan police, urusan asuransi, urusan sana-sini...haduuhhh...sepertinya terbayang stres nya seperti apa nanti.

Seringkali (hampir pasti) manusia, mengukur sesuatu hanya berdasarkan perhitungan rasional, matematis-sistemis. Ukuran quantitatif menjadi patokan. Ukuran qualitatif terabaikan. Jika faktor x begini maka faktor y akan begitu...demikian hubungan regresi dalam pelajaran statistika. Manusia melupakan faktor error. Tangan Allah, akan mempengaruhi dan mencampuri hubungan x dan y tersebut melalui sifat IRADAT-Nya, suka-suka Allah dong. Intervensi Allah ada dimana-mana, melalui siapa saja, dari arah mana saja, kapan saja....
 
Tetapi tentunya intervensi atau Iradat Allah juga memerlukan "undangan" kita. Dalam bahasa statistika perlu ada manipulasi data. Kita diwajibkan menghadirkan situasi, context setting yang sesuai dengan keinginan Allah agar Dia bersedia menoleh kepada kita, mengulurkan tangan-Nya, merengkuh kita dalam dekapan-Nya, dan mengangkat kita dari keterpurukan. Context setting memerlukan hard effort and sustainable effort...perlu ikhtiar, sabar, ikhlas, dan pasrah.

Singkat cerita banyak hikmah dibalik kejadian ini yang bisa aku ambil. Pertama, kami sudah memiliki asuransi sekarang. Kami mengalami ujian dan pengalaman bernegoisasi. Kami dilatih sabar. Kami dilatih lebih malu. Sementara hikmah yang lainnya banyak mungkin, tapi tidak tertangkap oleh keterbatasan mata dan pikiran kami. 

Teringat aku akan suatu tausiah ustadz yang mengisahkan kejadian tabrakan sebuah mobil angkot. Setiap hari seorang penjual tape di sebuah desa, memikul dagangan tapenya untuk dijual di kota. Setiap hari penjual tape ini menaiki angkot langganannya menuju pasar di kota. Pada hari itu, entah kenapa, ketika meniti jembatan dia terpeleset sehingga seluruh dagangan tapenya tumpah, sehingga dia harus membersihkan dagangannya dan telat naik angkot langganannya. Manusiawi jika pada umumnya manusia merespon kejadian tersebut pertama kali dengan ungkapan kecewa, marah, sedih, menyalahkan diri sendiri dan sikap negative lainnya. Lebih parah lagi jika manusia merespon dengan menyalahkan orang lain, mengeluarkan sumpah serapah, Nau’dubillahi min dzalik.

Hikmah sebuah kejadian muncul sesudahnya dan itupun hanya diberikan Allah untuk orang-orang yang bersedia membuka hatinya. Ternyata angkot yang biasa dinaiki penjual tape itu, pada hari itu mengalami kecelakaan. Allah telah menyelamatkan penjual tape dari kecelakaan mobil. Tidak hanya tapenya, hartanya tapi juga diperpanjang umurnya, dengan hikmah yang tak dipahami. Secara logika pastinya resiko sebuah kecelakaan mobil berakibat lebih fatal dari hanya sekedar terpeleset,  Begitu mudah manusia berganti ucap dari sumpah serapah menjadi Alhamdulillah…

Pada saat itu kami tidak bersumpah serapah..tapi setitis di dalam hati kami ada penyesalan mengapa kami kurang berhati-hati dan tidak sabar? Tiada sepengetahuan Allah gugurnya sehelai daun dari dahannya, rontoknya rambut dari akarnya…Semua sudah menjadi ketentuanNya. Manusia hanya sekedar menjalani..
Sampai hari ini, setelah telepon pertama kemudian call hari berikutnya……Tiada kabar berita dari si bule tentang mobil itu. Hopefully everything is fine…Alhamdulillah…terima kasih atas pelajaranMu ya Allah…

Cahaya hikmah harus dicari? Seperti mencari sinar ini?

Salam,
Nh


leonard 3.03.11

Monday, February 28, 2011

Kerapkali menahan diri lebih baik daripada menuruti-part 1

Salam sahabat,

Pagi itu, rabu tanggal 9 Februari 2011. Seperti hari-hari biasa, setelah bangun pagi segera aku berbenah dan menyiapkan aktifitas memasak untuk menyambut suami pulang dari kerja. Si Mas setiap hari berangkat kerja sekitar jam 4.30 pagi dan pulang sekitar jam 8.30 pagi. Setiap hari aku usahakan untuk bisa menemaninya sarapan pagi, meski dengan menu chef "ala kadarnya". Terkadang malam hari, aku sudah memasak lauk so paginya cuma tinggal menanak nasi, menghangatkan sayur serta kadang-kadang menggoreng kerupuk teman makan yang tidak pernah ketinggalan bagi si Mas. Setelah menemani sarapan, aku bisa melenggang ke kampus diantar si Mas ataupun kadang-kadang naik transperth bus.

Entahlah, hari itu aku masak oseng-oseng kembang kol campur daging. Habis, terkadang aku kehilangan akal untuk menu masakan harian. Suamiku tipe penyuka ikan, tempe dan tahu yang pasti harus diGORENG. Sementara berbagai jenis daging, baik daging sapi, daging ayam ataupun daging kambing emoh..Walaupun kadang-kadang doyan juga kalau menunya pas dilidahnya, dan terutama jangan direbus. Karena, bentuk wujudnya masih nampak tidak berubah, so kadang-kadang dia enggak "tega" makannya.

Jika mengingat hari itu, mengapa aku harus memilih oseng-oseng brokoli, kembang kol, dan irisan daging sapi? yang semuanya tidak menjadi "kedoyanan-nya". Aku memilih kata-kata ini dalam tanda petik, karena jangankan suka, doyan saja enggak. Tapi otak diktatorku menyuruhku berbuat demikian. Kemarin-kemarin khan sudah goreng ikan, sambel, telur...bosen makan kok enggak ada sayurnya. Nah, sekarang tiba waktunya untuk memaksakan kehendak pada suami..he..he..he..(demi memenuhi asupan sayur untuk si Mas). Jika mengingat mengapa harus memilih oseng-oseng?pertanyaan kembali memenuhi otakku. Kembali ingatanku melayang ketika aku berusia 17 keatas, ibuku sering menanyakan pertanyaan yang sama, setiap hari dan membuatku bosan sehingga tak sadar aku terkadang males menjawab pertanyaan ibu (habis jawabannya susyahhh  sich..he..he...Maafkan ibuku tersayang..:-)). Pertanyaan itu adalah "hari ini bapakmu dimasakkan apa?" atau "enaknya hari ini masak apa?" Duh, maafkan ananda ibu, waktu itu ananda belum bisa merasakan susah, berat dan sekaligus bahagianya jadi isteri dan ibu.

Kembali ke cerita tadi. Si Mas pulang kira-kira jam 8.20pagi, aku tanya "mas, aku siapkan sarapan ya? sudah lapar tho?". "Iya, kebetulan lapar sekali", jawabnya. Begitu kusajikan makanannya, dia tak bernafsu makan, akhirnya makanan cuma diorak-arik alias tidak dimakan secara sempurna. Agak kesal aku menahan marah, sudah capai-capai memasak buat suami, kok malah tidak dimakan alias dibuang. Si mas maklum kalau aku marah, dia minta maaf, karena menu itu memang tidak kedoyanannya. "Maafkan mas ya, soalnya kalau dipaksa bisa muntah..." Woalahhh...antara jengkel, marah campur kasihan. Ternyata diktatorku tak berarti..kalau aku paksa tetap makan hasilnya malah muntah. Ya, sudah kalah telak dech...

"Yuk, aku antarkan kalau sudah siap", begitu kata si Mas mengajak berdamai. Memang aku harus segera keluar rumah alias ke kampus, karena kalau kelamaan bisa mengganggu his schedule for sleeping. Dia harus siap-siap tidur setelah mengantarkan aku, karena mulai sore hingga malam harus kembali kerja. Ditengah perjalanan aku diam, masih mangkel..dia juga masih enggak enak.


Sepanjang jalan Berwick st, Kent st, Turner ave semua lancar. Nah, di jalan Turner ini ada mobil, dikendarai oleh wanita setengah baya, bule seperti kebingungan mencari alamat. Dia menyetir tidak stabil, seolah mau berhenti lalu mau jalan begitu seterusnya. Kami yang dibelakangnya menjadi sedikit bingung. Peraturan mengendari mobil di Perth, diwajibkan mengikuti rambu-rambu kecepatan. Semisal, aturan kecepatannya 40km/jam, kita tidak bisa berjalan dibawah ataupun diatas aturan yang sudah ditetapkan. Ada dua kemungkinan yang akan kita peroleh jika melanggarnya: diklakson dan dimaki oleh pengemudi lain di belakang kita, atau dijepret oleh kamera otomatis dan akan dikenai denda. Disini tidak ada polisi yang sering meniup sumpritan seperti di negara kita..:-)

Eh, si Mas alhamdulillah bisa mendahului alias menyalib si bule, dan menurunkan aku di Brodie Hall 10 dan dia bergegas setelah say good bye.  Eh, baru beberapa saat kemudian aku dikejutkan dengan kehadiran si Mas secara tiba-tiba di dalam gedung, bagaimana dia bisa masuk? setiap orang yang tidak memiliki hak memasuki gedung pasti tidak juga memiliki akses masuk, karena semua siswa dibekali card..."keluar sebentar yuk, ada yang aku mau bicarakan"....deg..ada apa nich??...Semoga tidak ada apa-apa, meski hatiku ku berguncang bertanya??