Thursday, November 17, 2011

Kangen Tak Terperi (1)...

Pelajaran hidup apa lagi yang akan aku hadapi...
Entahlah, kadang aku merasa bodoh tidak mau tahu apa yang sebenarnya ada dihadapanku...tetapi penyesalan datang kemudian. Klise..memang. Semoga bukan penyesalan, melainkan sebuah ungkapan syukur atas hadiah kesempatan yang Allah berikan untuk aku untuk mendampingi ayahku disaat saat terakhirnya. Disaat usia ku...yang mungkin saja tinggal setengah (aku berdoa lebih) dari hidupku.

Kisah ini, aku mulai dari akhir tahun 2010, bulan Desember dimana aku dan si Mas merencanakan pulang kampung ke Semarang setelah hampir 1.5tahun menahan rindu silaturahmi, elusan tangan dan "jenggungan tangan" ke kepalaku yang kadang mampir (atau sengaja aku hampirkan), dan dekapan hangat bapak dan ibu serta saudara-saudaraku. Rencana matang kami susun berdua, 14 Desember kami akan meninggalkan Perth barang 3 minggu untuk melepas kangen dan yang utama bagiku adalah menjalankan proses pencarian data awal melalui diskusi fokus group untuk risetku. Sudah terbayang, aku akan pontang-panting melakukannya semuanya dalam waktu singkat, terlebih akhir tahun....liburan sudah menanti...terpampang sedikit pesimis bisa melaksanakannya sesuai jadwal.

Agak beda memang, jika si Mas sudah mengagendakan kepulangan kali ini untuk bertemu dengan saudara-saudara, orang tua, handaitaulan serta para tetangga, dan yang pasti sudah ditunggu-tunggu acara kuliner. Kasihan selama disini menu utamanya sebatas "oseng-oseng" hehehe.....Dengan demikian, aku harus fokus pada tujuan utama, sementara untuk urusan yang lain aku kesampingkan. Termasuk tidak begitu banyak bergelanjut manja, bercerita panjang lebar tentang apa saja yang bisa aku ceritakan selama disini pada ayah dan ibuku. Memang seharusnya tidak banyak yang bisa kuceritakan, karena hampir tiap bulan kami sempatkan mengabarkan apa saja tentang keadaan kami kepada kedua orang tua dan mertua terutama. Biasa...agenda utama adalah minta doa dan ridho orang tua, bukankah itu yang lebih utama??

Desember 2010 berganti Januari 2011, alhamdulillah diskusi fokus group sudah selesai, acara selanjutnya ternyata persiapan pulang ke Perth juga menyita waktu. Beberapa kali, aku dan suami beruntung sudah sempatkan diri berinteraksi lebih intens dengan ayah terutama. Namun, mengapa aku tidak fokus pada ayahku pada kepulanganku ini?? Memang, ayahku pernah terkena serangan stroke sampai empat kali, namun alhamdulillah tidak menjadikannya menjadi patah semangat untuk melanjutkan kehidupan ini. Semangat hidup beliau luar biasa...belum sanggup kami anak-anaknya menirunya.

Tibalah saat, kami harus kembali ke Perth, ayah ikut mengantarkan kami ke bandara. Memang, ayahku luar biasa..demi menyambut kepulanganku saja, beliau sampai "ngeyel" menjemput kami di Jakarta ditengah kondisinya yang serba terbatas. Padahal, sudah kami wanti-wanti kami hanya semalam transit di Jakarta dan akan langsung ke Semarang esok harinya...jadi mending bertemu saja di Semarang. Tapi, itulah ayahku...tidak ada yang bisa mengalahkan keinginannya...akhirnya jadilah kami menginap dirumah kakakku di Tangerang malam itu. Walau sebenarnya tidak bisa dikatakan menginap, karena kami tidak pernah tidur malam itu. Pesawat Garuda tiba jam 21.05 WIB, lalu perjalanan menuju Tangerang hampir 1 jam...sampai rumah ngobrol-ngobrol sampai jam 3 malam...karena khawatir tidak bisa bangun sekalian tidak tidur untuk menyiapkan keberangkatan ke bandara Soetta lagi karena kami harus cek in jam 6 pagi untuk penerbangan pertama ke Semarang. Aku bayangkan ayahku...antara senang bertemu aku..anaknya dan capek jalannya. Alhamdulillah, kami semua tiba di Semarang dengan selamat...home sweet home.

Pada keberangkatanku ke Perth, aku tidak merasakan sesuatu yang luar biasa...Aku percaya semua akan baik-baik saja. Setiap malam kusisipkan doa, ku titipkan orang-orang terkasihku dalam penjagaanNya, karena aku tidak berada disisi mereka. Maafkan aku ayah....

Kembali ke Perth, memulai aktifitas rutin...seperti biasa. Februari, kukabarkan kabar gembira kepada ayahku...beliau senang. April jadwalku mengambil data ke Indonesia, tertunda karena ada beberapa hal yang harus kuselesaikan, walaupun tiket sudah ditangan terpaksa harus reschedule. Mei, aku sangat ingat tanggal 8 hari Minggu, kembali aku pulang ke Indonesia. Ayah sudah memberi kabar menjemputku kembali walau hanya di Bandara Ahmad Yani. Tanggal 9 Mei (pas hari ulang tahun ayah), tapi, kucari sosoknya dikerumunan penjemput penumpang, namun tidak kutemukan...hanya ibu dan adikku. Ternyata, kabar dari ibuku, ayah lebih merasa perlu menunggu tukang dirumah daripada ke Bandara..."it's Ok dad...enjoying your hobby". Hehehe..begitulah salah satu kegiatan ayah yang luar biasa, selalu mencari kesibukan disela-sela sakitnya.

Menjelang Bulik Lastri Umroh, Sayung tahun 2008
"Bapak, lha katanya mau ikut jemput, kok ndak jadi?" begitu kataku ketika melihat beliau keluar kamar mandi sekitar jam 9 pagi. " He..he..he...candanya, aku kira enggak jadi pulang". (Aku tak kuasa meneruskan tulisan ini...air mataku jatuh deras seolah tak tertahan....).

Al-fatikhah....
Semoga Allah menjagamu, ayah...
Titip sampaikan salam rinduku untuknya ya Allah..
Kulihat ayah tenang dalam tidurnya, tersenyum dalam heningnya...
Semoga khusnul khotimah....Amin Ya Rabbal A'alaminnn.....


Leonard St, 18 Nov 2011

No comments:

Post a Comment