Monday, February 28, 2011

Kerapkali menahan diri lebih baik daripada menuruti-part 1

Salam sahabat,

Pagi itu, rabu tanggal 9 Februari 2011. Seperti hari-hari biasa, setelah bangun pagi segera aku berbenah dan menyiapkan aktifitas memasak untuk menyambut suami pulang dari kerja. Si Mas setiap hari berangkat kerja sekitar jam 4.30 pagi dan pulang sekitar jam 8.30 pagi. Setiap hari aku usahakan untuk bisa menemaninya sarapan pagi, meski dengan menu chef "ala kadarnya". Terkadang malam hari, aku sudah memasak lauk so paginya cuma tinggal menanak nasi, menghangatkan sayur serta kadang-kadang menggoreng kerupuk teman makan yang tidak pernah ketinggalan bagi si Mas. Setelah menemani sarapan, aku bisa melenggang ke kampus diantar si Mas ataupun kadang-kadang naik transperth bus.

Entahlah, hari itu aku masak oseng-oseng kembang kol campur daging. Habis, terkadang aku kehilangan akal untuk menu masakan harian. Suamiku tipe penyuka ikan, tempe dan tahu yang pasti harus diGORENG. Sementara berbagai jenis daging, baik daging sapi, daging ayam ataupun daging kambing emoh..Walaupun kadang-kadang doyan juga kalau menunya pas dilidahnya, dan terutama jangan direbus. Karena, bentuk wujudnya masih nampak tidak berubah, so kadang-kadang dia enggak "tega" makannya.

Jika mengingat hari itu, mengapa aku harus memilih oseng-oseng brokoli, kembang kol, dan irisan daging sapi? yang semuanya tidak menjadi "kedoyanan-nya". Aku memilih kata-kata ini dalam tanda petik, karena jangankan suka, doyan saja enggak. Tapi otak diktatorku menyuruhku berbuat demikian. Kemarin-kemarin khan sudah goreng ikan, sambel, telur...bosen makan kok enggak ada sayurnya. Nah, sekarang tiba waktunya untuk memaksakan kehendak pada suami..he..he..he..(demi memenuhi asupan sayur untuk si Mas). Jika mengingat mengapa harus memilih oseng-oseng?pertanyaan kembali memenuhi otakku. Kembali ingatanku melayang ketika aku berusia 17 keatas, ibuku sering menanyakan pertanyaan yang sama, setiap hari dan membuatku bosan sehingga tak sadar aku terkadang males menjawab pertanyaan ibu (habis jawabannya susyahhh  sich..he..he...Maafkan ibuku tersayang..:-)). Pertanyaan itu adalah "hari ini bapakmu dimasakkan apa?" atau "enaknya hari ini masak apa?" Duh, maafkan ananda ibu, waktu itu ananda belum bisa merasakan susah, berat dan sekaligus bahagianya jadi isteri dan ibu.

Kembali ke cerita tadi. Si Mas pulang kira-kira jam 8.20pagi, aku tanya "mas, aku siapkan sarapan ya? sudah lapar tho?". "Iya, kebetulan lapar sekali", jawabnya. Begitu kusajikan makanannya, dia tak bernafsu makan, akhirnya makanan cuma diorak-arik alias tidak dimakan secara sempurna. Agak kesal aku menahan marah, sudah capai-capai memasak buat suami, kok malah tidak dimakan alias dibuang. Si mas maklum kalau aku marah, dia minta maaf, karena menu itu memang tidak kedoyanannya. "Maafkan mas ya, soalnya kalau dipaksa bisa muntah..." Woalahhh...antara jengkel, marah campur kasihan. Ternyata diktatorku tak berarti..kalau aku paksa tetap makan hasilnya malah muntah. Ya, sudah kalah telak dech...

"Yuk, aku antarkan kalau sudah siap", begitu kata si Mas mengajak berdamai. Memang aku harus segera keluar rumah alias ke kampus, karena kalau kelamaan bisa mengganggu his schedule for sleeping. Dia harus siap-siap tidur setelah mengantarkan aku, karena mulai sore hingga malam harus kembali kerja. Ditengah perjalanan aku diam, masih mangkel..dia juga masih enggak enak.


Sepanjang jalan Berwick st, Kent st, Turner ave semua lancar. Nah, di jalan Turner ini ada mobil, dikendarai oleh wanita setengah baya, bule seperti kebingungan mencari alamat. Dia menyetir tidak stabil, seolah mau berhenti lalu mau jalan begitu seterusnya. Kami yang dibelakangnya menjadi sedikit bingung. Peraturan mengendari mobil di Perth, diwajibkan mengikuti rambu-rambu kecepatan. Semisal, aturan kecepatannya 40km/jam, kita tidak bisa berjalan dibawah ataupun diatas aturan yang sudah ditetapkan. Ada dua kemungkinan yang akan kita peroleh jika melanggarnya: diklakson dan dimaki oleh pengemudi lain di belakang kita, atau dijepret oleh kamera otomatis dan akan dikenai denda. Disini tidak ada polisi yang sering meniup sumpritan seperti di negara kita..:-)

Eh, si Mas alhamdulillah bisa mendahului alias menyalib si bule, dan menurunkan aku di Brodie Hall 10 dan dia bergegas setelah say good bye.  Eh, baru beberapa saat kemudian aku dikejutkan dengan kehadiran si Mas secara tiba-tiba di dalam gedung, bagaimana dia bisa masuk? setiap orang yang tidak memiliki hak memasuki gedung pasti tidak juga memiliki akses masuk, karena semua siswa dibekali card..."keluar sebentar yuk, ada yang aku mau bicarakan"....deg..ada apa nich??...Semoga tidak ada apa-apa, meski hatiku ku berguncang bertanya??

Tuesday, August 10, 2010

Peran Dukungan Orang Tercinta

Pada dasarnya manusia tidak bisa hidup sendirian. Sudah menjadi fitrah manusia yang selalu ingin berkumpul dengan keluarga, kerabat dan sahabat. Peran orang lain bisa memiliki arti yang sangat penting dalam kehidupan seorang anak manusia atau sebaliknya bisa juga dianggap tidak penting. Namun terlepas dari semuanya, kesendirian memunculkan kerinduaan untuk berkumpul dan bercengkrama.

Dukungan dari orang terkasih disekitar kita memiliki arti yang sangat penting, terutama disaat kita sedang mengalami kesedihan. Arti ayah, ibu, kakak, adik, suami atau isteri menjadi tumpuan sandaran tempat membesarkan hati yang kecil dan melapangkan pikiran yang sempit. Tutur kata yang lemah lembut, kesediaan mendengar segala keluh atau uluran tangan ikhlas menjadi obat mujarab penghibur duka. Terlepas dari itu semua, hanya Allah-lah satu-satunya tempat yang menjadi sandaran hidup kita. Tempat curhat dan bermunajat berucap syukur dan meminta kekuatan untuk bisa mengatasi semua cobaan hidup. Hasbunallah waa ni'mal wakil nikmal maula wa nikmal wasir. Cukup Allah penolongku.

Wednesday, December 16, 2009

Dilepas orang tua tercinta

Story Behind Dikti Scholarship....the Secret part-1

With bu Oliva,  the first time to Curtin University
With bu Yuyun's family before landing to New Zealand
Assalamu'alaikum...
Sahabat,

Kebahagiaan berita pengumuman penerima beasiswa DIKTI tahun 2009 seolah puncak dari keinginan yang lama terpendam. Bukannya tidak pernah terbayang, akan bisa menginjakkan kaki di Perth, Australia, sering malah memimpikannya. Namun ketika telepon dari sahabatku, bu Yuyun, malam itu, sekitar pertengahan bulan Maret 2009 (jika tidak keliru...he..he..) yang memberi berita kejutan, benar-benar menjadi surprise untukku. Kira-kira beginilah percakapan kami melalui telepon.

Yyn: Assalamu'alaikum, bu sudah pirso pengumuman beasiswa Dikti?sudah keluar lho nama-namanya...
Me: Wa'alaikum salam bu...Ah, yang bener? Siapa saja bu yang masuk? (Sambil kebat kebit hati ini membaca doa karena sudah membayangkan bakalan tidak masuk daftar penerima. Skor IELTS jadi penentu utama he..he.. ).
Yyn: Siapa ya?? (sengaja bikin penasaran). Ada pak Andre, bu Mila, bu Yuyun, sama sapa ya?? bu Arief...alhamdulillah katut.
Me: Alhamdulillah...terima kasih bu........


Perjuangan mendapatkan beasiswa tidak tanpa cerita heroik. Cerita perjuangan dimulai pada pertengahan tahun 2006 sudah diajak teman-teman, terutama motivator bu Yuyun (thanks you very much, sista) untuk hunting informasi sekolah keluar negeri secara gratis alias nyari beasiswa. Pameran pendidikan sering disambangi, persiapan administrasi mulai dipikirkan, skor bahasa Inggris mulai dipikirkan juga untuk ditingkatkan. Alhamdulillah, dukungan teman-teman dan universitas menggelorakan semangat yang kadang surut, kadang maju bahkan kadang enggan beranjak dari tempatnya.

Awal tahun 2007, berkenalan dengan Alfalink, lembaga konsultasi pendidikan luar negeri di Semarang, tepatnya berkantor di jalan Kartini. Terima kasih, atas pelayanan dan bantuan konsultasinya pak Imam, mb Grace, dan mba2 yang lain. Tak pernah mereka menyurutkan semangatku, sebaliknya memompa motivasiku. Walaupun beberapa menerima penolakan "letter of offer" dari universitas luar negeri karena masalah skor IELTS, tetapi mereka tetap senyum..."mungkin nanti ada jalan lain buk"..(dengan logat surabayan yang medhok).

Meskipun ditolak dibeberapa universitas, aku juga diterima di beberapa universitas. Mereka bersedia menerima diriku apa adanya alias dengan modal bahasa Inggris yang ngepas banget, tetapi harus ikut kursus bahasa Inggris di universitas sono. Uang dari mana???
Aku tetep ndak bisa berangkat dong karena aku khan maunya sekolah gratis dengan mengandalkan modal kepala, dengkul dan keringat (karena dana sendiri mesti kurang...banyak sekali..he..he). Lagian mana mau si pemberi beasiswa, bayarin untuk kursus bahasa dulu. Ya, sudah ngalamat jual mahal menolak tawaran dari universitas (gantian jual mahal...he..he..). Tetapi dengan berkali-kali minta tolong pak Imam dan mba-mba di Alfalink.."pak, bisa minta tolong disampaikan kepada universitasnya, saya akan berangkat kalo sudah dapat beasiswanya. So, minta tolong "letter of acceptance"nya minta expand satu semester yah...". Dengan senyum (tak tau aku arti senyummu ini..) pihak Alfalink berkata "Endak apa-apa kok bu, jangan sungkan-sungkan lho buk..." Bolak-balik ini terjadi, antara sungkan, malu, putus asa, semangat, enggak PD, pasrah, bangkit semua campur aduk selama hampir 1.5 tahun lebih.

Tapi disela-sela itu, usaha untuk meningkatkan skor terus dilakukan. Tiada kenal mundur, mulai kursus di Study World, privat CLT, Pare (ah..ada cerita sendiri dech nanti, bersama bu Yuyun end family plus mbok Yah....I miss u all), sampek privat pak Ilyas (bersama bu Ratna) huahahaha... Beberapa kali ikut test IELTS di IDP (malu juga ketemuan sama mba Endah dan mas itu teyus..hehehe..). Hasilnya kayak timbangan, kok? Tes kali ini, skor ini naik, skor itu turun. Lain kali gantian yang ini turun, yang itu naik. Walah...ya dinikmati saja dech sambil tak lupa terus berdoa memohon yang terbaik yang diberikan Allah swt.

Perjuangan ini juga tidak sendiri, ada banyak tangan-tangan tulus di belakang, di samping, di depan, atas dan bawah mendukung aku, semuanya memberikan dukungan. Suamiku yang tak pernah lelah dan mengeluh mengantakan kursus ke sana ke mari dan hunting ini itu...(sampai sekarang ini setia menemaniku di Perth dengan bekerja apa adanya, tapi syukur alhamdulillah Allah mengantarkan dan kami yang menjemput rejeki disini). Love you honey ^_^...

Teringat setiap hari kalau kursus bahasa Inggris jam 4 sore, ijin pulang kantor lebih cepat, cuma ganti baju trus tancep. Alhamdulillah, enggak pernah capek dan sakit (kok sekarang baru ingat ya? nikmat kesehatan yang Allah..dasar manusia pelupa...:-)) aku harus segera pergi lagi dengan menaikki motor sendiri. Beberapa kali juga alm.tetanggaku pak Bekti yang terkadang menginap di rumah karena rumahnya terendam air (banjir), bertanya: "mau kemana bu?" kalau aku titipi kunci rumah kalau-kalau mereka mau masuk rumahku untuk istirahat setelah bersih-bersih rumah mereka. Pada saat itu sering tergesa-gesa, lupa makan...ah sudah berlalu masa-masa itu.

Doa orang tua, mertua, saudara-saudara. Pertanyaan-pertanyaan yang manis juga sering mampir di telinga...."bagaimana hasil testnya? bagaimana rencana studinya? jadi tidak? kapan berangkat?" Semua adalah doa. Sering dalam perjalanan naik motor berdua dengan suami, aku bertanya pada suamiku: "mas sekarang ini bu Vivi sedang apa ya di Perth? mungkin enggak ya kita bisa ke Perth?" (bu Vivi adalah sahabat di universitas di Semarang yang menerima aku di Perth pertama kali). "Muga-muga Gusti Allah mengijabah doa kita ya...amin"

Yang tak boleh dilupakan adalah bantuan dana. Universitas tempat aku bekerja, dengan pak rektor dan jajarannya, sangat mendukung semangatku dan teman-teman scholarship hunter. Lingkungan kerja di fakultas juga tidak membebani. Semua bergerak menuju satu titik....beasiswa.

Masya Allah, ketika aku menulis ini seperti aku tersadarkan bahwa manusia hanya akan bisa mengambil hikmah suatu kejadian jika dia mentafakuri, mengingat, merenung dan berfikir akan suatu kejadian. Ya..semua aktifitasku pada saat itu, tertuju, terfokus pada satu tujuan...aku berusaha dan mencoba bertahan pada satu situasi, pasrah berharap. Aku nggoyo pada usaha tetapi tidak ngoyo pada hasil. Semua bergerak ke satu titik, kalau bisa dianalogkan sama seperti gerakan thawaf, always moves, dynamic, focus, persistence, positive (thinking) and pray...(ingat mantra 3P-nya M.Assad, positive...persistence...pray...berpikir positive...tekun-ulet-kerja keras-pantang mundur-konsisten....berdoa.

Belajar mengambil hikmah dari buku Negeri5menara dan Ranah3warna (hanya baca resensi kompasianer HS):
http://media.kompasiana.com/buku/2011/02/15/negeri-5-menara-dan-ranah-3-warna/

Man Jadda Wajadda....
Man Shabara Zhafira...

Berikut saya kutipkan sebagian kalimat penutup:
… Mantra Man Jadda Wajadda saja ternyata tidak cukup. Antara sungguh-sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan. Tapi ada jarak. Jarak ini bisa hanya satu sentimeter, tapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi juga bisa puluhan tahun.
Jarak antara sungguh-sungguh dan sukses hanya bisa diisi dengan sabar. Sabar yang aktif, sabar yang gigih, sabar yang tidak menyerah, sabar yang penuh dari pangkal sampai ujung yang paling ujung. Sabar yang membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin., bahkan seakan-akan itu adalah sebuah keajaiban dan keberuntungan. Padahal keberuntungan adalah hasil kerja keras, doa, dan sabar yang berlebih-lebih.
Bagaimanapun tingginya impian, dia tetap wajib dibela habis-habisan walaupun hidup sudah digelung dengan nestapa akut. Hanya dengan sungguh-sungguhlah jalan sukses terbuka. Tapi dengan sabarlah takdir itu terkuak menjadi nyata. Dan Tuhan selalu memilihkan yang terbaik dan paling kita butuhkan. Itulah hadiah Tuhan buat hati yang kukuh dan sabar.
Sabar itu awalnya terasa pahit, tetapi akhirnya lebih manis daripada madu. Dan Alhamdulillah, aku sudah mereguk madu itu. Man shabara zhafira, siapa yang sabar akan beruntung.” (A. Fuadi:2011. P 468-469)
Sahabat, mungkin ini adalah hikmah dari pelajaran story behind Dikti Scholarship...the Secret part-1.

Berawal dari mimpi (nawaitu), usaha sungguh-sungguh (ikhtiar), pasrahkan (ridho)..
Teringat nasehat ustad Arief: "khasil ki dudu wilayahmu, bagian-mu mung sak dermo nglakoni sing temen, wes kuwi thok, khasil kuwi wes ono sing ngatur....".
Aku cuma bergumam dalam hati, "inggih honey..."

Aku lolos pada ujian itu...
Saat ini, aku sedang mengalami episode ujian yang berbeda, dengan tantangan yang berbeda. Semoga pelajaran ini aku ingat terus untuk bisa lolos menapaki tiap episode berikutnya....
PhD: sweet and bitter (halah...)


Salam,

Nh